Showing posts with label E-Commerce Indonesia. Show all posts
Showing posts with label E-Commerce Indonesia. Show all posts

Friday, December 20, 2013

Jangan Tiru Kesalahan Berjualan di Media Sosial Ini

Bila Anda memiliki seorang anak berusia remaja yang gemar bermain media sosial dan hendak merambah media sosial sebagai alat bisnis Anda, berkonsultasilah terlebih dahulu dengannya. Kendati tampaknya seseorang bebas melakukan apa pun di media sosial, pada kenyataannya media sosial dipenuhi rambu-rambu tak kasat mata di sana-sini. Anak Anda, besar kemungkinan, sadar dengan berbagai rambu tak terlihat itu.

Oleh karena itu Anda bisa menanyakan mengenai hal-hal yang harus dilakukan dan dihindari untuk mendekati konsumen di media sosial. Bagaimana reaksinya kalau tiba-tiba konsumen di-tag foto produk oleh satu akun toko online? Apakah ia akan tertarik atau malah merasa terganggu dan segera mencabutnya, bahkan menghilangkan akun toko online terkait dari daftar pertemanan?

Bagi saya pribadi, ada beberapa kekeliruan umum yang perlu Anda perhatikan bila Anda hendak berjualan di media sosial. Semoga membantu Anda supaya tidak tampak awam-awam amat. Hehehe.
  1. Tak memahami tata krama media sosial
    Orang-orang menggunakan media sosial sebagai sarana pergaulan. Pahamilah bahwa apa pun yang kita lakukan, jangan sampai hal itu mengganggu aktivitas para pengguna media sosial. Sebagai pihak yang bukan siapa-siapa bagi mereka, membombardir semua yang terdapat dalam jaringan Anda dengan pesan promosi produk Anda pantang untuk dilakukan. Jangan juga men-tag foto terlalu sering hingga membanjiri linimasa mereka. Pahami tata krama media sosial. Jangan tergopoh-gopoh dalam berpromosi, yang bisa menyebabkan Anda dicabut dari jaringan pertemanan banyak orang atau bahkan dicap buruk di media sosial.

    Berjualan HP di Facebook rentan disangka hendak melakukan penipuan

  2. Membalas pertanyaan yang datang dengan dingin
    Bila ada yang mulai menanyakan hal-hal mendetail mengenai produk Anda di media sosial, jangan sekadar menjawab pertanyaannya. Pastikan jawaban Anda terasa ramah dan bersahabat. Pasalnya, membeli produk secara online berarti memercayakan uang kepada orang asing. Sikap yang hangat akan membantu Anda dalam membangun kepercayaan pembeli.
  3. Tidak menjaga pelanggan yang sudah ada
    Mereka yang sudah membeli sudah menjadi network Anda. Jagalah baik-baik dengan memastikan mereka menerima informasi produk terbaru yang kira-kira menjadi preferensi mereka, memastikan mereka terlayani sebaik-baiknya bila memesan lagi. Sapalah juga mereka secara pribadi dan hangat kala mereka menanyakan segala sesuatu. Tag dengan informasi-informasi nonkomersil yang kira-kira berguna untuk mereka. Tag juga apabila ada ucapan hari raya dan semacamnya.
  4. Mengabaikan publikasi informasi nonkomersial
    Meski bukan perusahaan besar, Anda juga perlu melakukan apa yang dalam istilah marketing adalah penjualan lunak, soft selling. Konsumen tentu akan bosan jika hanya disuguhi postingan yang secara gamblang mempromosikan produk Anda. Malah bisa jadi Anda akan dianggap spammer. Ada kalanya mereka membutuhkan pengetahuan baru seperti bagaimana cara merawat produk Anda, bagaimana cara memaksimalkan kegunaan produk Anda, dll. Ini akan membuat akun Anda dianggap ‘berisi’ atau bermanfaat oleh follower Anda di social media. Bisa jadi dengan ini, akun Anda akan direkomendasikan ke yang lain oleh para follower Anda. 
  5. Tidak mengeksplorasi jaringan komunitas di media sosial
    Lewat konsumen yang telah acapkali membeli produk Anda, penting bagi Anda untuk menelusuri jaringannya. Lewat media sosial, Anda dapat memeriksa laman profilnya dan bukan tidak mungkin ia terlibat dalam laman komunitas diskusi yang berhubungan dengan produk Anda. Anda juga dapat mencari komunitas-komunitas ini lewat kolom pencarian. Ketika Anda menemukannya, pastikan Anda tidak datang sebagai pengganggu; Anda mesti datang sebagai seseorang yang mempromosikan produk-produk yang kira-kira mereka butuhkan dan, tentu saja, tampil bersahabat. Bila Anda bisa menggarap jaringan komunitas ini di media sosial, faedah yang Anda raup akan luar biasa.
Jejaring komunitas mudah dicari di FB

Begitu, rekan-rekan. Semoga berguna untuk Anda sekalian.

Monday, December 16, 2013

Social Media Gagal Naikkan Penjualan Fashion?



Ada sebuah berita dari ritel-ritel besar luar negeri yang cukup mengagetkan. Brand-brand fashion ternama seperti Gap, Oscar de la Renta, dan Tory Burch, serta retailer fashion seperti Nordstrom, mulai menutup toko-tokonya di jejaring sosial dikarenakan media tersebut terbukti tidak meningkatkan penjualan mereka.

Lebih lanjut, sebuah studi yang melibatkan 250 brand fashion tersohor menemukan bahwa dalam empat tahun terakhir penjualan melalui Facebook hanya meningkat 0,25%. Sementara lewat Twitter, lebih rendah lagi, cuma meningkatkan penjualan sebesar 0,01%. Angka ini tidak setimpal dengan investasi yang mereka keluarkan untuk membuka toko di jejaring sosial tersebut, yang kemudian membuat banyak brand harus menghentikan operasinya di sana.

Sebelum memperoleh berita ini, memang, saya pribadi pernah mendengar keluhan dari kawan yang berjualan barang lewat social media. Saya memang sering mendorong orang-orang untuk berjualan secara online karena keuntungan yang bisa diperoleh darinya, ia langsung menyampaikan uneg-unegnya.

“Tapi kok saya merasa seperti ngomong sendiri saja ya, Mas? Berceloteh sendiri di Twitter tanpa ada yang menanggapi. Rasanya seperti menghabis-habiskan waktu,” ujarnya.
Namun ada kawan lain yang bernasib berbeda. Kawan saya ini, pemilik penerbitan kecil, malah berhasil menggelembungkan penjualan langsung secara luar biasa melalui media Facebook. Ia menge-tag ribuan kawannya di Facebook, dan terbukti ia bisa menerima puluhan order setiap harinya bahkan lebih-lebih biaya produksi dapat tertutupi dari penjualan online sendiri. 

Kendati demikian, kawan saya yang satu ini mungkin harus menjadi pengecualian tersendiri. Ia telah membangun jaringan pelanggannya dalam waktu yang tak sebentar sehingga orang-orang mudah percaya padanya dan begitu antusias tatkala ia mempromosikan barang baru lewat album foto di Facebook.

Untuk mereka yang baru merintis usaha dan belum memiliki jaringan, membuka usaha online melalui jalur socmed tampaknya justru akan memiliki banyak tantangan. Orang lebih banyak membukanya untuk bertanggap-tanggapan dengan kawan-kawannya atau memperoleh informasi dari akun-akun yang membagikan pengetahuan, tips, atau info menyenangkan.

Belum lagi algoritma yang dipasang oleh Facebook mendikte hanya posting yang paling banyak ditanggapilah yang akan terpajang di linimasa pengguna, sehingga posting dari Anda yang memang tidak bertujuan untuk mencari tanggapan atau like akan sulit terlihat oleh kawan Anda.

Tetapi apakah ini berarti Anda harus menyerah berbisnis online? Sama sekali tidak. Penjualan bisnis online dari tahun ke tahun terus meningkat, hanya saja, pertanyaannya, jalurnya lewat mana? Masih dari studi yang sama dengan yang kita singgung di atas, 9,82% pelanggan baru diperoleh melalui hasil dari mesin pencarian (Google dan Yahoo!) dan 6,84% melalui email. Artinya, berjualan barang di situs-situs e-commerce, yang memang menempati halaman terdepan mesin pencari akan jauh lebih efektif. Pengunjung, toh, memang mengunjungi situs e-commerce dengan pikiran ingin berbelanja bukannya bersosialisasi.
E-commerce diprediksi akan lebih efektif melonjakkan penjualan (Sumber: http://www.tokoon.com/Home/Beranda)

Meski begitu, sebaiknya Anda tidak meninggalkan akun jejaring sosial toko Anda. Bukan tidak mungkin Anda dapat membangun sebuah network yang amat membantu penjualan Anda, seperti kawan saya itu. Karena pada dasarnya jejaring sosial adalah media untuk bersosialisasi, bukan untuk berjualan. Ada baiknya Anda menghindari hard sell di social media dan kemudian menggunakannya untuk membangun brand image serta berinteraksi dengan komunitas yang relevan dengan produk Anda.

Cobalah. Semoga membantu!

Thursday, December 12, 2013

Tips-tips Berjualan Kerajinan Online

Bagi Anda yang punya usaha kerajinan dan ingin melebarkan pemasaran, jejaring internet benar-benar merupakan suatu berkah bagi Anda. Manfaatkanlah sebaik-baiknya. Tanpa perlu menyewa lapak sebagaimana usaha konvensional, Anda dapat menjajakan produk-produk Anda kepada konsumen yang membutuhkan. Tanpa perlu berlelah-lelah membagi brosur di sana-sini, Anda dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan produk/brang kerajinan Anda.
Namun perlu digarisbawahi, gratis dan praktis tidak berarti mudah. Berikut ini sejumlah tips untuk berjualan kerajinan online yang gemar saya bagikan dalam seminar-seminar namun baru sempat saya tulis kali ini. Semoga membantu sobat e-commerce sekalian.
  1. Pelajari lautan yang akan direnangi
    Internet adalah lautan baru yang belum banyak dipahami oleh orang-orang. Jeff Bezos, sang pendiri Amazon pun tak berani mengatakan dirinya memahami internet. Pelajari, pertama-tama, bagaimana tingkah-polah para pembeli dalam melakukan belanja online, beruntung bila ada teman Anda yang biasa berbelanja lewat situs-situs e-commerce. 
    Pelajari kawan Anda
    Perhatikan, apakah dia mencari barangnya lewat Google terlebih dahulu atau langsung mengunjungi situs tempat ia biasa berbelanja? Adakah situs tertentu yang menjadi preferensinya? Apa yang memancing perhatiannya terhadap suatu produk apakah foto, deskripsi, ataukah harga? Pelajari ini semua dan terapkan hasilnya untuk produk-produk Anda. Kemudian pelajari lagi. Pelajari lagi. Jangan berhenti.
  2. Pastikan Anda tidak tenggelam
    Dengan kemudahan dan kepraktisan berjualan secara online, internet pun diserbu oleh para penjual dari mana-mana. Mengutip istilah W. Chan Kim dan Renee Mauborgne, ia telah menjadi lautan merah bertaburan ikan-ikan lain yang berusaha mencari makan. Pastikan produk Anda tak tertutupi melainkan tampil menonjol di antara kerumunan produk-produk lain, siap memukau mata pembeli online yang melihatnya.Caranya? Pelajarilah produk lain yang menurut Anda menarik ketika mengamati situs terkait. Apakah fotonya yang menarik? Apakah nama produknya yang menarik? Ataukah karena produknya lain daripada yang lain? Merujuk ke poin pertama lagi, alangkah baiknya juga bila Anda memiliki kawan untuk dipelajari perilakunya.
  3. Sebarkan link ke produk Anda.
    Dengan tidak diperlukannya biaya hanya modem, laptop, dan niat manfaatkanlah jejaring internet dengan segala fasilitasnya semampu Anda. Cari forum atau komunitas yang kira-kira merupakan pasar potensial produk Anda dan promosikan secara halus kepada mereka produk yang Anda punya. Buat media social, lalu berkawanlah dengan mereka yang kira-kira akan tertarik dengan produk Anda.Pastikan informasi tentang produk Anda dapat dengan mudah dijumpai oleh mereka yang membutuhkannya. Sebarkan link ke berbagai media dan channel yang relevan, jika tidak relevan, maka akan dianggap “spam” atau Anda menyampah. Sehingga orang akan enggan untuk mengklik link yang Anda berikan jika tidak sesuai tempatnya.

    Sebarkan link produk Anda (Sumber: http://www.tokoon.com/Product/Detail/18406/0/0/2/kerajinan-tangan-1-set-cangkir-gerabah-klasik.html)
  4. Bangun dan jaga kepercayaan
    Ketika seorang pembeli memutuskan untuk memesan kepada Anda secara online, ia tak melihat wajah Anda atau barang yang akan dipesannya. Ia boleh dikatakan sedang bertaruh. Jagalah kepercayaan tersebut dengan tidak memberikan informasi yang salah tentang produk Anda atau berlama-lama dalam mengirimkan produk Anda. Saat Anda sudah merampungkan kepercayaan, Anda bukan hanya akan memperoleh langganan yang sulit untuk berpaling dari Anda namun juga direkomendasikan ke kolega-koleganya.


  5. Empat tips di atas inilah yang saat ini sedang saya ingat. Cukup saya kira sebagai pegangan untuk permulaan. Lain kesempatan, bisa kita lanjutkan.


    Oh iya, tips satu lagi: make that happen!

Friday, December 6, 2013

Hindari 5 Kesalahan Berjualan Kerajinan Online Ini

Acapkali diminta pendapat oleh rekan-rekan yang membuka bisnis online, hal yang paling pertama saya sampaikan kepada mereka adalah, berjualan online berbeda dengan berjualan offline. Pahamilah bahwa internet merupakan belantara yang memiliki jalur dan risikonya tersendiri.
Seperti yang kita tahu, beberapa pemilik UKM memang mengandalkan kerajinan tangan untuk dijual. Selain bisa dibuat unik, kerajinan juga memiliki prospek lebih untuk dijual ke luar negeri. Nah, kali ini saya akan merunut lima kekeliruan utama yang kerap saya jumpai dari para pemilik bisnis berjualan kerajinan online berikut sejumlah saran untuk memperbaikinya.
  1. Memilih nama toko yang menyulitkan
    Memilih nama toko bagi beberapa orang mungkin terasa seperti memilih nama bayi. Anda ingin memberikannya nama yang unik, khas, dan tidak ada yang menyamainya. Tetapi, camkan selalu sebuah pertanyaan di hati Anda, apakah ini tidak akan menyusahkan pembeli untuk mengingatnya?
    Rotan Elok Menawan Nyaman Sekali—apakah orang-orang dapat mengingat nama ini dalam sekali baca atau harus beberapa kali baru ingat?
    Kalaupun Anda bukan orang yang memilih nama bisnis online seantusias memilih nama anak, jangan pula malas atau memilih nama seadanya. Ingat, nama yang memudahkan Anda diingat(dan menancap di pikiran)akan memberikan bisnis Anda keuntungan. Berbeda dengan bisnis darat di mana toko Anda bisa diingat dari lokasi Anda, di bisnis online Anda hanya akan diingat dari nama Anda. Seseorang dapat dengan mudah lupa domain Anda, tetapi Anda akan dicari di Google dengan nama Anda.
    Google akan membantu konsumen menemukan produk Anda
  2. Tidak fokus
    Fokuslah. Karena tidak fokus adalah kekeliruan utama yang selanjutnya dalam membangun bisnis online. Saya kenal satu gerai buku kecil yang saat ini sudah melampaui gerai-gerai buku lain di sekelilingnya karena memulainya dengan fokus. Dia dari awal memang mengkhususkan diri untuk berjualan satu jenis buku saja dan dikenal orang karena hal itu. Dia juga paham betul apa yang ia jual.
    Fokus akan memungkinkan Anda mudah diingat, dan lagi dibicarakan serta dirujuk oleh kelompok yang memang mencari Anda. Artinya: Anda akan memiliki agen-agen marketing cuma-cuma! Selain itu, peringkat Anda dalam mesin pencarian Google akan ditentukan oleh kepadatan pengunjung laman Anda dan seberapa laman Anda dianggap menjawab pencarian para pengguna. Ini artinya, ketimbang memajang banyak barang di lapak online, berfokus akan lebih banyak manfaatnya!
  3. Tampilan tidak menarik
    Komputer atau telepon genggam adalah medium informasi yang semata berdimensi visual. Hindarilah berpikir cukup dengan menaruh foto dan deskripsi seadanya, pembeli kemudian akan datang dengan sendirinya.
    Ingat, pembeli tidak mungkin meraba atau mencoba langsung produk Anda. Mereka hanya akan bisa membayangkan dari kesan visual yang diperolehnya dari foto produk Anda, dan deskripsi yang Anda pampang. Karena itu, pastikan selalu tampilan visual toko Anda menarik. Gunakan foto-foto produk yang jernih dan menimbulkan kesan yang kuat, serta cantumkan informasi produk yang lengkap namun tidak terlalu panjang atau bertele-tele.
  4. Tidak menggarap komunitas
    Jangan anggap pembeli sebagai pihak yang pasif dan membeli ketika mereka mendapati barang yang sepertinya mereka butuhkan. Para pemilik produk-produk tertentu biasanya akan membentuk jejaring pergaulan di antara mereka sendiri, dan di antara komunitas inilah biasanya mereka berbagi informasi tentang suatu produk. Baik atau buruk citra sebuah produk pun tak jarang ditentukan dari pembicaraan di tingkat komunitas ini.
    Nah, memastikan usaha Anda dekat dengan komunitas-komunitas akan memberi Anda sejumlah keuntungan. Pertama, Anda dapat menyebarkan informasi secara lebih efektif, langsung kepada mereka yang membutuhkan. Kedua, kedekatan dengan usaha Anda akan mendorong mereka untuk mempromosikan juga produk-produk Anda kepada para kolega sekomunitas atau, mungkin bahkan, antarkomunitas. Ketiga, Anda mengetahui apa yang mereka inginkan sehingga Anda dapat menghindari pembicaraan negatif mengenai produk Anda.
    Komunitas adalah jejaring penting yang mesti Anda genggam. Jangan sampai luput!
  5. Tidak mempromosikan
    Meski mungkin sudah banyak yang gencar dalam promosi online, terakhir saya tetap mesti mengingatkan sobat-sobat akan kekeliruan mendasar ini. Internet memiliki sederet perangkat gratis untuk membantu Anda melakukan promosi online, memastikan informasi tentang produk Anda tersedia dan tersebar sebanyak mungkin di internet. Gunakanlah!
Toko e-commerce menyediakan tombol bagikan ke socmed untuk mempermudah Anda. Gunakanlah!


Sekian tips dari saya. Semoga dapat membantu Anda, sobat e-commerce.

Berakrab-akrab Dahulu, Mendapat Langganan Kemudian

“Hai, Rian!”
Kalau saya membongkar-bongkar inbox email saya, bukan kawan atau kenalan baik yang paling sering mengirimkan dengan awalan hangat seperti di atas. Biasanya malah situs-situs penjaja jasa atau produk seperti Agoda, atau media sosial seperti—yang tentu sudah Anda kenal—Twitter. Merekalah para “kawan terkarib” kita saat kita membuka email, yang tak ingin kehilangan Anda sebagai pengguna atau pelanggannya.
Strategi mengakrab-akrabkan diri dengan pengguna jasa atau pembeli ini memang tak lagi baru di antara perusahaan-perusahaan besar dunia. Bahkan di tengah iklim persaingan marak dengan korporat-korporat lainnya, engagement bukan lagi sebuah pendekatan melainkan kebutuhan. Hal ini adalah wajib hukumnya. Tak cukup bagi sebuah megakorporat bila Anda hanya membeli produk atau memanfaatkan jasanya. Mereka juga memerlukan Anda menjadi pelanggan loyal yang akan kembali dan kembali datang kepadanya.
Engagement yang salah, hehehe

Memang, besar kemungkinan Anda, pembaca saya, tidak menangani perusahaan-perusahaan yang bahkan tak memiliki kantor cabang di Indonesia tersebut. Meski demikian sama sekali tak ada ruginya belajar praktik engagement online dari strategi pemasaran mereka. Selain biayanya bisa jauh lebih efisien ketimbang marketing konvensional, saya pun yakin manfaatnya riil bila dikelola dengan tepat.
Sebenarnya secara prinsip, engagement online tak jauh berbeda dari membangun keakraban dengan pembeli secara tatap muka. Dalam engagement tatap muka ini, Anda, pertama-tama, membangun relasi yang bersahabat. Jawab semua pertanyaannya dengan ramah dan meyakinkan. Ajak dia mengobrol hal-hal yang sifatnya santai dan tak melulu soal jual-beli. Bantu ia mengetahui cara-cara merawat produk Anda. Saat Anda melakukannya dengan benar, pembeli akan betah dan kembali lagi ke toko Anda.
Facebook merupakan sarana yang amat membantu engagement

Dalam engagement di ranah e-commerce, Anda kini sudah semakin dimudahkan dengan segala media yang ada di internet. Anda memiliki sederet  perangkat pendekatan gratis seperti email, social media, mailing list, dan lain-lain. Sebagai contoh awal, Anda dapat membuat pemberitahuan setiap ada produk baru, “Hai, Budi! Bagaimana kabar liburan Anda? Tertarik berlibur ke pantai indah seperti ini? [Tunjukkan foto yang cantik.]” Buatlah pelanggan lebih akrab lagi dengan kata-kata yang lebih kreatif dan lebih menarik.
Namun yang terpenting dari prinsip online engagement, peganglah beberapa tips dasar ini:
  1. Perhatikan dan jaga baik-baik data alamat email pengguna atau pelanggan yang pernah bertransaksi dengan Anda. Jangan pernah dihilangkan, ini adalah data yang amat berharga!
  2. Dalam menyebarkan informasi via jejaring internet atau social media, pentingkan informasi yang mengundang perhatian dan menggoda untuk diteruskan seperti promo. Pentingkan juga informasi-informasi nonkomersil yang bermanfaat bagi mereka. Jawab tiap pertanyaan mereka dengan antusias. Anda juga bisa mengajak mereka berbicara secara akrab tentang satu topik tertentu, yang masih nyambung dengan kehidupan mereka maupun produk Anda.
  3. Jangan agresif atau mendikte. Berbeda dengan televisi atau koran, internet adalah media dua arah. Anda berguna dan menyenangkan, Anda akan didengarkan.

Intinya: dalam engagement online, jadilah pusat informasi sekaligus sahabat para pembeli Anda. Jadilah bermanfaat. J

Thursday, December 5, 2013

Jangan Malas Mengurusi Foto Produk Anda

Malas mengunggah foto produk yang pantas, para kolega e-commerce? Jangan anggap sepele. Jangan sampai produk terbaik yang sudah susah-susah Anda siapkan akhirnya menganggur di sudut gudang, tak terjual, dan hanya bisa Anda pandangi miris, hanya karena kesalahan kecil tersebut.
Ingatlah selalu, sebaik-baiknya sebuah produk, ia tak bisa menjual dirinya sendiri. Tempatkan diri Anda selalu tak hanya sebagai penjual melainkan juga sebagai calon pelanggan bisnis Anda sendiri. Bayangkan, Anda menyelusuri sebuah toko online. Di hadapan Anda terpampang sederetan produk yang tak kalah menarik satu sama lain. Apakah yang paling pertama menangkap perhatian Anda? Apakah deskripsi produk? Apakah fitur canggih ataukah manfaat uniknya?

Saya kira tidak.

Tampilan salah satu laman Amazon.com. Apakah yang paling pertama menarik perhatian Anda?
Gambar adalah hal paling pertama yang akan diperhatikan e-buyers. Bahkan lebih dulu dari nama atau harganya. Sepersekian detik kemudian, barulah mata calon pembeli akan mulai menyeka nama produk, lalu peringkat, lalu harga, dan seterusnya. Meski tak menjadi faktor tunggal yang sepenuhnya menentukan keputusan membeli, kesan pertama disadari atau tidak oleh sang pembeli akan sangat menentukan pertimbangan-pertimbangannya selanjutnya.
Bayangkan saja saat-saat Anda memilih makanan dari menu restoran. Ada menu yang terpampang fotonya, ada yang tidak. Lebih menggiurkan yang mana? Jelas, yang berfoto. Walau pastinya menu tanpa foto tetap akan dipesan, namun biasanya yang lebih cepat habis adalah yang menyertakan gambar.
Bagi Anda para pemilik usaha kecil dan menengah yang belum memiliki merek, foto bahkan memainkan peranan yang lebih penting lagi ketimbang katakanlah Anda memasarkan produk Apple atau Samsung. Dengan brand yang belum didengar atau dikenal oleh kebanyakan orang, nama Anda tidak akan membantu Anda memancing ketergiuran calon pembeli ketimbang foto produk yang memikat.
Jangan terlebih dahulu merasa Anda akan repot mesti menyewa fotografer profesional. Prinsip foto-foto produk yang pantas sebetulnya sederhana. Anda dapat melakukannya sendiri.

Pertama, keep it clear! Pastikan produk Anda tampak jelas. Salah satu kekeliruan foto produk paling umum adalah produk tampak buram atau tidak jelas dipandang. Pastikan produk memperoleh pencahayaan yang cukup, juga tidak pula memantulkan cahaya balik yang menyilaukan produk. Pastikan pula resolusi kamera Anda cukup tinggi, dan objek diambil di atas latar yang tepat. Jangan memotret kemeja coklat, misalnya, di atas kasur kecoklatan.
Produk perhiasan yang tampak jelas dan menarik
Kedua, perspective is (almost) everything. Ambil sudut potret yang membuat produk terlihat mencolok sekaligus memancing hasrat pembeli ingin memilikinya. Bila itu bangku rotan, tonjolkan betapa cozy tampilannya apabila sang pembeli merebahkan diri di atasnya. Bila itu perhiasan, utamakanlah mengambil gambar batu mulianya ketimbang rantai dan tambahkanlah pencahayaan agar ia berkilauan serta nampak berharga. Eksperimen berulang-ulang hingga Anda memperoleh hasil terbaik. Ingat, fotografer profesional sekalipun tak langsung berhasil memotret momen terbaik dalam sekali jepret.
Kerajinan Bangku Rotan Jepara yang tampak nyaman direbahi
Sumber: http://www.tokoon.com/Product/Detail/22403/0/0/2/kerajinan-bangku-rotan-jepara.html
Ketiga, don’t be afraid to imitate. Mentok? Carilah rujukan dari situs-situs besar dan pelajari apa yang membuat foto produknya tampak menarik. Mengapa foto iPad bisa memaksa Anda merogoh kocek untuk membelinya? Mengapa foto suguhan Burger King bisa menggoyang lidah hanya dengan melihatnya? Carilah foto produk yang paling dekat dengan dagangan Anda. Foto-foto produk perusahaan besar dipastikan diambil oleh fotografer yang telah memiliki jam terbang tinggi, jadi kalau Anda bisa menirunya sama saja Anda belajar ilmu dari ahlinya.
Analisis mengapa burger ini tampak lebih lezat daripada saat Anda pandangi produknya langsung


Dan saran terakhir saya, langsunglah mencoba, para kolega. Selamat bekerja!


Friday, November 29, 2013

Mengubah Pembeli Jadi Pelanggan

Mengubah Pembeli Jadi Pelanggan


Saat ini barang apa sih yang tidak bisa kita temukan di internet? Beragam website dan situs-situs baru berlomba untuk menawarkan produk yang berbeda kepada pembeli. Kemudahan dalam transaksi yang diberikan oleh internet pun membuat kehadiran website baru kian menjamur. Apalagi jualan melalui internet bisa dikatakan sangat murah karena penjual tidak terlalu memerlukan sebuah toko. Asal ada barang dan ada uang, transaksi pun dapat dilakukan dengan mudah.
Seiring meningkatnya masyarakat melek internet dan pengguna gadget portabel (smartphone, tablet, dll), para penjual barang di media online pun terus memperbarui strategi mereka agar tidak ketinggalan zaman. Kini, pembeli tidak perlu lagi keluar rumah jauh-jauh untuk pergi ke butik, factory outlet, atau toko-toko lainnya untuk mencari barang yang diinginkan. Yang perlu ia lakukan hanya mencari melalui gadget-nya, klik, lalu barang siap diantar ke rumah. Aktivitas semacam ini bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Jadi pembeli bisa melakukan transaksi di kantor, di rumah, atau saat sedang liburan sekalipun.
Pengenalan barang dagangan dan promosi pun seluruhnya dilakukan melalui jaringan internet. Penggunaan social media menjadi sebuah keuntungan yang luar biasa bagi penjual, karena masyarakat melek internet pasti memiliki setidaknya akun Facebook dan Twitter. Biaya beriklan bisa ditekan, tapi pembeli tetap dapat melihat barang yang ditawarkan dengan mudah.

Namun dibalik semua kemudahan yang diberikan oleh jaringan internet, ternyata pembeli masih menginginkan sesuatu yang lebih saat berbelanja secara online. Para penjual pun harus memiliki strategi online baru agar tidak tertinggal dalam persaingan dagang online. Nah, untuk membuat strategi yang baru, ada baiknya para pedagang mengetahui apa yang sebenarnya diinginkan oleh pembeli online, dan faktor apa saja yang mendorong pembeli untuk berbelanja secara online. Berikut rinciannya:
1.      Kemudahan pembelian melalui gadget portabel
Hasil penelitian UPS Pulse of the OnlineShopper menunjukkan bahwa hampir 50% pengguna smartphone menggunakan smartphone mereka untuk berbelanja online. Sedangkan 60% pengguna tablet pun menggunakan tablet mereka untuk berbelanja secara online. Berdasarkan hal ini, ada baiknya penjual pun menciptakan sebuah aplikasi yang memudahkan pembeli untuk mengakses toko virtual. Adanya aplikasi di gadget mereka membuat mereka senantiasa melihat aplikasi tersebut sengaja atau tidak disengaja. Hasil penelitian pun menyebutkan, adanya aplikasi semacam ini cenderung membuat pembeli menjadi lebih setia untuk tetap berbelanja melalui jaringan internet.
2.      Interaksi melalui akun social media
Tidak bisa dipungkiri, social media sudah menjadi sesuatu yang penting bagi pedagang online. Setidaknya, penjual online harus memiliki akun Facebook dan akun Twitter sendiri, di samping website khususnya. Mengapa? Hasil studi lebih lanjut dari UPS menunjukkan bahwa 77% pembeli online menggunakan Facebook, dan 26% pembeli menggunakan Twitter untuk melihat barang yang ditawarkan. Media sosial dinilai sebagai cara yang baik dan relatif murah untuk mempromosikan barang dagangan. Selain itu, pedagang juga mempunyai kesempatan lebih untuk mempromosikan dagangannya melalui teman, atau pelanggan setia. Sehingga yang terjadi adalah efek berantai di mana semua orang akan turut berpartisipasi dalam mempromosikan barang yang dijual.

3.      Kemudahan check out dan pilihan lebih banyak dalam pengiriman
Secara psikologis, 3 dari 4 pembeli cenderung akan membeli barang lebih banyak bila ongkos pengiriman barang digratiskan. Bila penjual memperhitungkan biaya penjualan dengan benar, bisa saja ongkos penjualan tersebut tertutup dengan pembelian yang lebih banyak. Namun berhati-hatilah karena seiring dengan jumlah pembelian yang banyak, maka ongkos yang akan digratiskan pun bertambah. Di sinilah kemampuan memperhitungkan penjualan sangat diperlukan.
Cara lain yang bisa dilakukan oleh penjual adalah mempercepat waktu pengiriman. Sebuah studi mengatakan bahwa beberapa orang bahkan rela membayar ongkos pengiriman lebih mahal hanya untuk mendapatkan barang lebih cepat. Pembeli cenderung membandingkan waktu pemesanan dengan waktu sampainya barang mereka. Kemudian mereka pun melakukan penilaian terhadap proses pengiriman yang dilakukan oleh toko. Ada juga pembeli yang langsung melihat stok barang yang dapat dikirimkan sesegera mungkin. Para pembeli semacam ini umumnya tidak peduli dengan ongkos pengiriman dan model yang variatif. Yang mereka pikirkan hanyalah kecepatan dan kemudahan dalam pembelian, terutama ketika check out. Hal ini juga dapat menjadi pertimbangan bagi penjual online dalam menarik pembeli.
4.      Kemudahan dalam pengembalian atau penukaran barang
Dalam bisnis online, pembeli pasti memiliki perasaan was-was karena toko online tidak memungkinkan pembeli untuk melihat produk yang dijual secara langsung. Bisa jadi barang yang mereka beli ternyata tak sesuai harapan ketika sudah sampai di tangan. Oleh karena itu beberapa toko online memberikan kebijakan pengembalian kepada para pembeli. Menurut studi UPS, sebanyak 2 dari 3 pembeli lebih memilih untuk berbelanja di toko online yang memiliki kebijakan pengembalian yang jelas dan mudah. Hal ini disebabkan oleh penemuan yang menarik di mana 66% pembeli selalu melihat terlebih dahulu kebijakan pengembalian barang sebelum dan sesudah mereka membeli barang tersebut.
5.      Respon customer service yang cepat
Kadang kala pembeli ingin bertanya-tanya dulu kepada penjual mengenai detail suatu barang. Bila customer service merespon pertanyaan pembeli dengan cepat, hal ini menjadi nilai tambah pada toko online tersebut. Selain itu sekarang juga sudah banyak toko online yang memiliki fitur live customer service yang selalu on selama jam kerja.

6.      Kemudahan tracking pengiriman barang
Setelah membayar barang yang ia pesan, pembeli online ingin mendapat konfirmasi bahwa pesanan mereka telah dikirim, lengkap dengan nomor resi pengiriman. Hal ini membantu mereka untuk memperkirakan kapan barang akan mereka terima. Selain itu, bila pesanan mereka tidak kunjung datang, mereka bisa mengecek langsung ke jasa pengiriman untuk mengetahui apakah ada masalah dalam pengiriman pesanan mereka atau tidak.

Toko online cenderung memiliki peluang sukses yang sama, malah lebih banyak dari toko biasa. Tidak terbatasnya pasar yang mereka miliki membuat toko online mampu memasarkan barang dagangan ke mana pun dan kapan pun. Namun saat ini persaingan antara toko online jelas sangat ketat. Karena itu, puaskan pelanggan Anda dengan memenuhi keinginan mereka, sehingga mereka tetap setia pada toko online Anda. Saat itu terjadi, berarti sukses sudah semakin dekat dengan Anda.


Sumber:
http://compass.ups.com/new-study-reveals-what-online-shoppers-really-want/
http://www.saleswarp.com/blog/what-do-online-shoppers-want/


Monday, July 8, 2013

Berlian Yang Tersembunyi Di Internet



Kehadiran internet di jaman sekarang benar-benar membantu kita dalam menangani urusan sehari-hari. Lima belas tahun yang lalu belum pernah ada yang membayangkan bahwa internet bisa menjadi sumber segala pertanyaan kita. Hari ini kita menggunakan internet bahkan untuk urusan sepele seperti mengecek grammar kita atau sekedar mendengarkan musik. Fenomena ini terjadi di mana saja di seluruh dunia, terutama di Indonesia.

Sebagai negara berkembang, Indonesia secara mengejutkan adalah salah satu negara dengan pengguna internet teraktif di dunia. Hasil riset Markplus Inside pada tahun 2011, seperti yang diberitakan Kompas.Com, jumlah pengguna internet di Indonesia naik menjadi 55 juta orang. Riset ini dilakukan di kota-kota besar dan kepada pengguna internet yang menggunakan internet lebih dari tiga jam sehari.
Trend sosial media yang terjadi sekarang ini sedikit banyak juga mempengaruhi penggunaan jumlah internet di Indonesia. Menurut TeenVoice.Com, Indonesia  menempati urutan kelima sebagai pengguna twitter teraktif di seluruh dunia. Jakarta, menurut Forbes.Com, adalah kota paling aktif menggunakan twitter di seluruh dunia. Dan Bandung menempati urutan keenam setelah New York, London dan Sao Paolo. 

Pengguna twitter di Indonesia menyumbang 15% dari seluruh tweet yang ada di seluruh dunia. Hal ini tentu saja membuka banyak peluang bagi para pebisnis dan pengguna internet di Indonesia. Konten internet yang tersebar dan luas memberikan banyak potensi dan kesempatan bagi para pebisnis untuk menawarkan atau menyediakan apa saja bagi siapapun. Mulai dari penawaran barang seperti kerajinan tangan, baju, furniture sampai jasa pengeditan tulisan dan desain. 
 
Di Indonesia bisnis online atau e-commerce sudah bukan menjadi barang baru lagi. Website e-commerce lokal seperti online shop begitu banyak kita temui di internet. Mereka biasanya beriklan di sosial media yang terbukti efektif seperti facebook dan twitter.
 
Bisnis  online ini terbukti menguntungkan. Diperkirakan pada tahun 2013 ini, nilai transaksi e-commerce Indonesia bisa mencapai angka 330 triliun rupiah, seperti yang diberitakan oleh detik.com. Angka ini akan terus bertambah mengingat baru 25% saja dari seluruh jumlah penduduk Indonesia yang “tersentuh” oleh fasilitas internet. Tidak heran jika banyak pebisnis lokal mulai melirik dan mencoba konsep bisnis yang menggiurkan ini.

Kendala utama dari bisnis e-commerce ini hanya pada penyebaran internet serta kebiasaan para pengguna internet untuk melakukan transaksi melalui internet. Walaupun berbelanja di internet sudah menjadi semacam habit di luar negeri, di Indonesia aktivitas ini relatif belum begitu dikenal. Menurut survei APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), seperti yang dilaporkan oleh Kompas.Com, 34,6 % pengguna internet takut ditipu dan 21,5% Kurang puas ketika berbelanja online karena tidak bisa melihat barang secara nyata.

Namun dengan semakin meningkatnya penggunaan internet di Indonesia dan pengenalan e-commerce secara aktif sebagai salah satu sarana menyenangkan untuk berbelanja, bisa dipastikan trend berbisnis dan bertransaksi lewat internet  akan semakin meningkat. 

E-commerce bagaikan berlian yang tersembunyi di tengah keramaian dunia maya dan menjadi solusi dari berbagai macam keterbatasan yang ada di dunia nyata, terutama bagi mereka yang jenuh dengan berbagai permasalahan khas kota besar di Indonesia seperti kemacetan, banjir dan lainnya. Mungkin sudah saatnya penduduk Indonesia mulai menggali berlian yang tersembunyi ini dan memberdayakannya semaksimal mungkin demi kemajuan bangsa.